Rabu, 08 Oktober 2014

Teori Suicide Emile Durkheim

                                                                      NAMA  : RIZKA FARIDATUL AZIZAH
                                                                      KELAS : B-3 SOSIOLOGI
                                                                      NIM       : 135120101111005

         Di dalam salah satu bukunya yang berjudul Dalam “SUICIDE” Emile Durkheim menyatakan suatu gagasan mengenai bunuh diri, dimana bunuh diri tersebut merupakan sebuah gejala sosial yang disebabkan adanya pengaruh dari integrasi sosial. Kemudian, Emile Durkheim membagi bunuh diri tersebut ke dalam empat tipe, yaitu :
1.Bunuh Diri Egoistik
Bunuh diri ini adalah jenis bunuh diri yang disebabkan karena tingkat integrasi sosial yang rendah dalam masyarakat. Hal ini terjadi dimana individu tidak dapat berinteraksi dengan baik dalam unit sosial yang lebih luas sehingga mengakibatkan integrasi yang lemah dan melahirkan perasaan bahwa individu bukan bagian dari masyarakat, dan masyarakat bukan bagian dari individu. Biasanya tipe bunuh diri semacam ini, didasari oleh sikap yang tidak terbuka kepada orang lain, sehingga akan menyebabkan perasaan terasing dari masyarakat. Misalnya, kasus bunuh diri yang dilakukan oleh artis-artis di Korea. Salah satunya adalah kasus bunuh diri yang dilakukan oleh artis Jang Ja Yeon. Artis tersebut melakukan bunuh diri karena dia merasa dieksploitasi serta mengalami kekerasan seksual selama berkarier di dunia hiburan. Dia menceritakan dalam sebuah catatannya sebelum meninggal bahwa ia menjadi budak nafsu dari orang-orang kaya untuk memuluskan jalannya menjadi artis dan dunia hiburan tersebut amat kejam (SmartSosiologi, 2010).
2. Bunuh Diri Altruistik
Bunuh diri ini adalah kebalikan dari bunuh diri egoistik. Jenis bunuh diri ini terjadi ketika integrasi terlalu besar dan kesadaran kolektifnya terlalu kuat. Dengan integrasi sosial yang terlampau kuat ini, individu tidak lagi dipandang kedudukannya, namun justu dipaksa untuk tunduk/patuh sepenuhnya pada tuntutan kelompok-kelompok (Hidayat, 2013). Di Indonesia bunuh diri altruistik dapat dilihat dalam tradisi Puputan di  Bali. Pada tahun 1906 guna menghindari tertangkap dan dijadikan budak oleh Belanda, dilakukanlah ritual bunuh diri massal, yang dikenal sebagai Puputan. Raja memerintahkan bahwa semua barang berharga harus dibakar dan setiap orang mulai dari anak bungsu, istri, dan pendeta digiring untuk dibawa pada upacara menghadapi Belanda. Ketika berhadapan dengan resimen Belanda, pendeta menghujamkan belati ke jantung Raja, menandakan dimulainya Puputan. Dari sini seluruh kelompok secara bersamaan mulai membunuh satu sama lain sementara para perempuan melemparkan uang dan perhiasan ke pasukan Belanda. Lebih dari 1000 orang Bali melakukan bunuh diri pada peristiwa itu.

3. Bunuh Diri Anomik
Bunuh diri anomik, merupakan bunuh diri yang disebabkan oleh ketidakhadiran norma, kekaburan norma atau terganggunya regulasi dalam masyarakat. Misalnya, bunuh diri dalam situasi depresi ekonomi yaitu ketika pabrik yang tutup sehingga para tenaga kerjanya kehilangan pekerjangan, dan mereka lepas dari pengaruh regulatif yang selama ini mereka rasakan (SmartSosiologi, 2010).
4.      Bunuh Diri Fatalistik
Bunuh diri fatalistik adalah bunuh diri yang diakibatkan adanya regulasi atau pengaturan yang berjalan secara kontinyu dan berlebihan terhadap kehidupan individu. Di sini individu merasakan hidupnya tidak berharga karena sedemikian tertindas atau dibatasi ruang geraknya (Mujiran, 2006). Misalnya, ketika seseorang tidak lulus kuliah seperti waktu yang ditargetkan yaitu berdasarkan peraturan kurang lebih 7 tahun. Apabila melebihi waktu tersebut, maka mahasiswa yang bersangkutan akan di DO. Sehingga, ketika tidak mampu menghadapi masalah tersebut, individu atau mahasiswa yang bersangkutan memilih jalan keluar yaitu bunuh diri.




Daftar Pustaka
http://angkatigabelas.blogspot.com/2012/01/kasus-bunuh-diri-massal-mengerikan.html, diakses pada tanggal 30 September 2014, pukul 20.00.
http://www.suaramerdeka.com/harian/0601/20/opi3.htm diakses pada tanggal 30 September 2014, pukul 20.00.
http://sasianagilar.wordpress.com/2010/12/09/9/ diakses pada tanggal 30 September 2014, pukul 20.00.